Untung 20% disaham Timah, sekarang pindah ke Saham Vaksin

0
105

Saham naik. Sempat anjlok hingga 50% dari total pembelian saham timah karena ekonomi menurun, niatanku ingin cut lose saja, supaya tidak hilang semuanya, tapi Saham timah berkode NIKL, sahamku, kembali meroket dan hampir mencapai ARA (Auto Reject Atas) hari ini.

Begitu aku buka platform trading, Fast Syariah, laci penyimpanan uangku hijau, tandanya sudah untung. Wow fantastis, profit 20% dari total pembelian saham NIKL. Seperti biasa, tidak sempat lagi study fundamental terhadap candle stick, tidak pula bersabar saham ini mencapai 25% keatas. Takut ARA akan menghilangkan kesempatanku profit hari ini karena batas ARA adalah max 30%.

Cek & Recheck, hari ini media online CNBC juga merilis berita bahwa index saham gabungan siap-siap tembus ke angka 5.200. Artinya memang secara umum terdapat kenaikan pada saham-saham tertentu. dalam kutipan dari MNC Sekuritas menyatakan bila ISHG uji resistence di 5.140 dan menembusnya maka ISHG ini akan menuju ke 5.200-5300. Saham-saham rekomendasinya adalah

  1. AKRA
  2. BBRI
  3. HMSP
Ilusatration: Memulai Investasi step by step

Dilain hal adalah menanam saham beberapa bula kedepan cukup menjanjikan. Issue yang beredar adalah ISHG menguat juga didorong oleh menguatnya saham Wall Street atas kerjasama antara pemerintas AS dan Pfizer untuk memproduksi vaksin virus Corona.

Di indonesia sendiri, saham farmasi menguat karena diisukan Vaksin Corona telah tiba. Beberapa perusahan menjadi rebutan para broker dan mereka sedang sangat diuntungkan. Banyak orang beralih membeli saham farmasi ini karena diyakini akan semakin menguat selama produksi vaksin. Diantara perusaham farmasi yang mendadak kaya adalah Kimia Farma Tbk (KAEF) dan Indofarma TBK (INAF). Selama 2 hari berturut-turut mereka sudah dua kali mengalami ARA.

Bocoran saja sih, kandidat vaksin Corona yang telah tiba di Indonesia dari Sinovac Biotech dalam proses uji klinis tahap 3 di kimia farma. Konfirmasi dari Staff khusus menteri BUMN, Arya Sinulingga.

Okay, balik lagi ke topik kita. Untuk kedepan, aku sendiri bakal memilih saham-saham farmasi. Paparan diatas sudah cukup meyakinkan bukan? Yah, Walaupun tidak suka vaksin, tapi namanya investasi dan mencari keuntungan sedikit, harus mengikuti pasar dong.

Bukannya aku tidak konsisten terhadap pendirian tapi ini bisnis. Jadi, memang harus siap mengikuti trend dan produk yang dipercaya oleh pasar untuk dijual. Bila tetap bertahan pada saham timah, batubara, semen, makanan, minuman, wisata dan sebagainya, maka profit juga kecil dan bahkan ditinggalkan oleh banyak orang.

Contohnya saja, Bumi Resources, perusahaan pertambangan yang bergerak pada hasil tambang batubara dan minyak bumi punya Bakri Group. Dulu saham BUMI dianggap saham sejuta umat yang berhasil membuat kaya para investor ritel, dulu april 2008, saham ini pernah ke angka 8000 rupiah/unit, tapi kini anjlok ke 50 rupiah/unit, mengulang lagi pengalaman ditahun 2015 setelah naik ke angka 3000 rupiah/unit. Berapa banyak para investor kolep?

Saat ini perusahaan BUMI sedang fokus pada penyelesaian total pinjaman jangka panjang senilai 1.43 milyar AS atau senilai 200 triliun rupiah dengan kurs 14000 rupiah/dollar. Hutang terbesar BUMI adalah ke anak perusahaan China Investment Cooperation (CIC) yaitu Country Forest LImited.

Nah, bila diterusakan untuk memelihara investasi di perusahaan BUMI, sakit mata ini untuk beberpa bulan kedepan melihat minus di laci penyimpanan uang.

Diawal saya udah bilang untuk pada saham timah, NIKL, kenapa tidak dilanjutkan? Pasalnya sama, menimbun uang pada saham ini tidak bisa menjamin bakal bertahan kedepan karena masa pandemi ini perekonomian menurun. Jadi fokus saja ke perusahaan farmasi yang memang sedang menggarap vaksin, untuk lebih besar. Berikut saham farmasi yang boleh dipilih:

  1. PEHA
  2. INAF
  3. KAEF
  4. PYFA
  5. KLBF
  6. MERK
  7. DVLA
  8. SIDO
  9. TSPC

Tapi yang recomended adala tiga saham teratas ya! Indikasinya adalah mereka menjadi bahagian dari produksi faksin di Indonesia. Aku sendiri juga begitu, tapi tolong bedakan mana saham yang ingin dijadikan investasi dan mana saham yang ingin dijadikan saham trading harian dimana kita sering short buy. Tentu pilih yang frekuens buy-nya tinggi, karena ini akan membuat aman saat melakukan buy and sell. Minimalnya satu diatara saham itu bisa kita beli dan jual, beli dan jual selama tiga kali dalam sehari.

Baca juga: Bitcoin, Mata Uang Digital masa depan.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here