Pare Kampung Inggris: Catatan 2020

Memilih paket belajar itu bukan cuma membuat aku bimbang tetapi juga membuat pendatang baru yang buta maps kebingungan. Pasalnya, nama-nama kursusan dan nama-nama paket belajar semua mengandung unsur "English". Tidak jarang aku menemukan kabar ada orang salah alamat.

1
661

Destinasi (waktu) terlama yang pernah aku habiskan adalah Pare, sebuah kecamatan yang menjadi populer karena daya pikat dua desa kecilnya, masyur secara nasional sebagai kampung Inggris. Aku bertemu sejumlah “penuntut ilmu”, datang dari berbagai daerah Indonesia, bahkan juga ada beberapa datang dari negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Timor Leste. Bak “kafilah”, rombongan demi rombongan keluar dari bus, dan “travel”. Koper-koper berjejer, satu orang minimal membawa satu.

Persis seperti kedatanganku pertama, mereka juga canggung untuk menyapa. Tiap ada”kafilah” lain yang lewat, yang terdengar cuma “hello’, ‘hi”, “good morning” terus mereka cekikikan sesamanya. Bahasa Inggris masih seperti mantra, bila salah dirapal bakal membuat orang mati tertawa. Makanya, mereka memilih menyimpan itu sampai berhasil menemukan orang yang tepat, mengajarkan penggunaannya. Mereka bakal menghabiskan sebagian hidup untuk mendalami dan sisa hidup mereka untuk menggunakan. Ada yang memilih dua pekan, satu bulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan atau genap satu semester. Tergantung kebutuhan.

Memilih paket belajar itu bukan cuma membuat aku bimbang tetapi juga membuat pendatang baru yang buta maps kebingungan. Pasalnya, nama-nama kursusan dan nama-nama paket belajar semua mengandung unsur “English”. Tidak jarang aku menemukan kabar ada orang salah alamat. Kadang satu pekan setelah belajar, mereka baru sadar telah tersasar ke kursusan orang atau minimal salah masuk kelas. Wajib tahu, kampung Inggris ini hanyalah istilah namun areanya berisi lebih dari seratus kursusan bahasa Inggris, jadi wajar saja bila English itu ada pada nama-nama kursusan. Di jalan yang sama bisa terdapat 4,5,6 sampai 8 kursusan dan lokasinya berdekatan. Belum lagi melihat beberapa kursusan yang telah bertransformasi menjadi “gurita edu raksasa”, kelas-kelas mereka ada di jalan ini, jalan itu. letaknya juga tepat disebelah kursusan tetangga.

Biasanya tiap kursusan itu bikin paket komplit 3 bulan, 4 bulan atau satu semester dimana isinya ada kelas grammar, kelas pronunciation, kelas writing dan kelas speaking.  Atau ada juga yang bikin paket khusus sesuai level, misalnya paket English for beginner 3 bulan: berisi kelas grammar level 1, kelas speaking 1, kelas pronunciation level 1 dan level kelas selanjutnya sampai tuntas 3 bulan. Betapapun sedemikian jelas, buat orang awam atau sepertiku yang baru keluar hutan tetap saja tidak paham tujuan dari program. Pernah ada yang paling awam datang mengambil program IELTS: berisi kelas listening, reading, writing dan speaking, bagi dia bayar “mahal” berarti mendapat program andalan. Dia tidak paham IELTS itu program persiapan “English test“, bukan program yang mengajarkan “English alphabets” seperti yang dia butuhkan. Bahkan beberapa kursusan sekarang sudah mengantisipasi ini terjadi lagi dengan melakukan Placement test bagi pendatang baru. “Istilah Matters”.

Deretan cafe murah nan “intagramable” yang berfungsi sebagai tourist traps kadang bikin pendatang baru kebingungan juga. Antara yakin dan tak yakin bahwa kelas dia berada disitu. Pernah aku berkeliling mencari sebuah kelas speaking-ku kala itu diadakan di sebuah Cafe megah di pare. Muncul seseorang lagi juga mencari lokasi yang sama, sampai tiga puluh menit kami mutar-mutar area tak kunjung ketemu. “Oh” ternyata kelas kami berada di lantai dua cafe tersebut. Buat yang baru pertama sekali datang pasti bakal mengahadapi kekeliruan yang sama, makanya sekarang setiap penerimaan member baru, pihak kursusan selalu membawa anak-anak camp ikut orientasi medan layaknya seperti pengenalan pada orientasi sekolah. Jadwal penerimaan setiap kursusan berbeda-beda tapi manyoritas melakukan pada tanggal 10 dan tanggal 25 setiap bulan.

Semakin hari, jumlah cafe kampung inggris pun terus bertambah dari segi jumlah, gaya dan “peruntukan”. Hampir setiap jalan ditemui Cafe baru dengan konsep “post-modern”. Canggih namun memperhatikan aspek ramah lingkungan. Sesekali aku mencoba merasakan sensasi ngopi dari cafe ke cafe, semua memberikan kesan yang berbeda. Semisal di cafe pertama aku merasakan “self-realisation“, di cafe kedua aku merasakan “self-satisfaction” di cafe ketiga aku merasa “hedon“.

Warung-warung kecil di pematangan sawah juga tidak kalah menarik. Selesai kelas sering aku menemukan teman-teman dan pelajar lainnya menggelar diskusi disitu karena ingin lebih dekat dengan alam. Suasananya sejuk dan menenangkan. Bahkan lokasi-lokasi seperti ini juga sering menjadi kelas. Lazim terjadi saat tutor mendapat hasutan member kelasnya buat bikin kelas outdoor saja. Alasannya jenuh dan bosan berada dalam dinding kotak tak bernafas.

Taman juga masuk hitungan sebagai kelas sekaligus area rekreasi. Letaknya tidak jauh dari keramaian, namun luasnya area bikin suasana tenang dan menggembirakan. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki tapi bersepeda lebih cocok. Areanya sejuk walau kadang terpaksa bawa jas hujan.  Jika sedang butuh kesendirian, bukan cuma aku, campers lain juga suka jalan-jalan sore “ngerujak” disini.

Ramah dan bersahabat

Kang bakso, kang cilok, kang somay, dan kang-kang lainnya adalah pedagang kaki lima yang manyoritas sudah terlatih berbahasa inggris. Mereka mendapat bimbingan khusus dari beberapa lembaga kursusan kampung Inggris. Aku mendapati beberapa mereka di jalan brawijaya berjualan. Awalnya aku mengira bahwa mereka tutor bahasa inggris yang sedang nge-prank, dan ternyata bukan. Selain mereka ada juga “pak de” di rumah makan jalan mawar, senang sekali mengajak member dari kursusan manapun untuk sekedar basa-basi sambil bikin teh hangat, bungkus nasi atau merapikan meja makan tempatnya berjualan.

Walupun begitu, tidak semua penduduk lokal mampu berbahasa Inggris seperti dugaan sebagian pendatang. Warung-warung makan mereka tidak menuliskan menu berbahasa Inggris, penjaga warungnya nya bahkan sering menegur dengan senyuman saja. Tapi dari perjumpaan-perjumpaan yang pernah aku alami, mereka menunjukkan dukungan terhadap siapapun yang datang berbahasa inggris. Sebagian karena faktor usia mereka makanya sudah lemah untuk kembali ke meja belajar. Sebagian lagi karena “mungkin” ketidakmampuan secara aktif bertutur dalam bahasa inggris makanya mereka kesulitan untuk berbahsa Inggris tetapi mereka paham.

Bukan cuma Bahasa Inggris

Sebutan kampung inggris yang sudah melekat selama empat puluh lima tahun sejak berdiri, kini bisa dibilang tidak lagi relevan. Aku menemukan banyak sekali bahasa selain Inggris diajarkan oleh beberapa kursusan. Beberapa bahasa itu ada bahasa arab, korea, jepang, mandarin, dan jerman. Produk-produk baru ini lahir untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa, atau pun pekerja yang memiliki rencana ke negara-negara yang bertutur bahasa tersebut. Bahasa arab muncul sebagai bahasa favorit kedua yang diminati saat ini di kampung inggris. Santri adalah golongan terbanyak berbahasa arab. Buat mereka bahasa arab ini membantu untuk mengulas ilmu agama yang banyak ditulis dalam bahasa arab sekaligus menjadi bekal mereka untuk berangkat studi ke timur tengah.

Pernah sekali mendapati diriku pada kejadian lucu kala duduk di sebuah warung kopi. Seorang teman dari daerah asal yang sama datang menghampiri. Spontan aku merasa aneh kala dia merespon ungkapan “How are you” dari ku dengan jawaban “yes, na’am alhamdulillah, yes”. Cara yang asing sekali yang pernah ku dengar. Biasanya aku cuma mendengar jawaban standard seperti “I’m good, alhamdulillah, and you?”. Ternyata dia sedang mengambil program bimbingan bahasa arab bukan bahasa Inggris sepertiku. Hal ini semakin aneh bila terjadi pada hari wajib berbahasa inggris untuku dan hari wajib berbahasa arab untuknya. Namun ini belum pernah terjadi.

Semakin bertambahnya jumlah bahasa yang diajarkan mungkin kedepan kampung inggris bakal resmi berganti nama menjadi kampung bahasa. Perubahan ini tidak akan berdampak buruk samasekali bagi kursusan bahasa inggris tetapi mungkin mereka juga bakal ikut berubah menyesuaikan keadaan. Seperti perubahan dadakan pada program pengajaran dari onsite menjadi online karena dampak dari virus covid-19.

Baca juga Pesona Saba Baduy

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here