Pagi ini, begitu azan subuh, saya terbangun, sebelum bangkit dari rebahan nge-cek Whatsaap ternyata ada pesan masuk. Seorang meng-iya-kan tulisan di blog gratisan saya cukup menarik dari gaya penulisan. Jadi Seperti biasa, ” Mau di-ulas issue apa?” tanya saya ke diri-nya. Bagai mendapat sepiring nasi panas, isu yang diajukannya harus saya diamkan sebentar biar sejuk karena takut lidah dan mulut saya terbakar bila langsung disuap ke mulut.

Menulis Isu Corona saat-saat begini, masih mending cuma mendapat komentar baik-buruk dari viewers tapi bila viral-nya mengundang kemelut tak berkesudahan, matilah aku. Di-bui atau hanya diinterogasi oleh polisi adalah dua hal yang aku pikirkan. Apalagi membicarakan isu Corona di wilayah argumentasi akan sangat berbahaya terhadap sikap atau pandangan penulis. Pertama bisa di-framing sebagai pengacau keamanan atau kedua disangka sebagai orang kafur terhadap rencana tuhan.

Masak iya? kalian pasti bertanya begitu. tahu-kah kalian sejak dari masa lampau manyoritas orang indonesia sebenarnya malas berfikir, makanya Tan malaka menggunakan sebuah frase untuk mendeskripsikan cara mereka berfikir dengan bahasa halus “logika mistika”, dimana artinya adalah berfikir tapi tidak ada kesimpulan yang diambil, kacau.Jadi bila aku berani selangkah memberi kesimpulan terhadap isu Corona dan tidak mewakili perasaan dan pendapat mereka, bisa jadi aku digolongkan sebagai anti-tauhid. Parahnya lagi bila tulisanku tidak ada indikasi untuk membela perasaan dan tidak mengucilkan bangsa china kafir yang sedang baru-baru ini menghantam bangsa muslim uyghur disana dengan statement “tibalah balasan Allah terhadap kekafiran dan kezaliman mereka atas muslim uyghur”. Maka dipastikan semua tulisanku adalah sampah yang tidak penting buat dibaca.

Beberapa menit setelah aku membaca keinginan si pengirim pesan whatsapp barusan. Jadi aku pikir akan baik bila menuangkan isu itu dengan cara membuka mindset viewers blog-ku biar mereka sajalah mengambil kesimpulan dan tidak melulu dikembalikan kepada tuhan dengan ucapan wallahu`alam bissawab tanpa ada keinginan membaca the latest informaton terkait isu corona tadi.

Padahal akan banyak sekali spekulasi yang bisa dibuat terkait isu itu jadi kita akan ada banyak kesimpulan yang bisa diambil dan itu biasa saja, maka tidak perlu ditanggapi dengan kepanikan atau pengabaian.Seperti permintaan si pengirim pesan whatsapp kepadaku, “apakah corona itu adalah senjata biologis yang digunakan untuk mengurangi jumlah penduduk?” Bisa jadi, tidakkah teman-teman baca buku sejarah bagaimana bangsa sipit Mongolia, Rajanya Jenghis Khan menumpas habis bangsa lain sampai ke timur tengah, Irak dengan menggunakan penyakit yang dikenal dengan nama Black Death.

Bisa jadi juga tidak, karena virus corona, Covid-19 ini memang pernah muncul sebelumnya di tahun 2014 di area-area dekat wabah penyakit Sars sebelumnya seperti di Guandong, China. Jadi dari dulu memang china punya riwayat sebagai wilayah berpotensi sebagi area tumbuh-kembang virus tak dikenal atau tak terdeteksi. Tapi jangan buru-buru juga menghakimi mereka karena punya budaya dan kebiasaan makan makanan haram dan tidak menghiraukan kebersihan makanan dan lagi jika menganggap karena mereka suka makan binatang extreme seperti kelelawar dan anjing. Dua makanan ini telah lama mereka makan tapi tidak ada efek langsung yang diterima badan. Apalagi kalau sekarang malah corona ini menyebar ke belahan negara lain sampai harus diantisipasi luar biasa contohnya oleh Indonesia, Singapore, dan Arab.

Dari sudut pandang politik, kita juga bisa ber-argumentasi seperti imbas dari perang dagang Amerika dan China. Dimana Virus ini disebar oleh lawan china untuk melemahkan mereka sebagai negara bakal super-power. Karena kemunculan virus ini ada setelah seminggu presiden Jinping mengeluarkan statement “China telas bebas dan keluar dari kemiskinan”, jadi musuh-nya langsung meng-meredam gelojak euforia mereka dengan virus ini. Hal ini saya tidak mengambil kesimpulan sendiri melainkan hasil diskusi dengan teman yang sedang berkuliah di Ching-Hua University. Pendapat ini bisa jadi salah dan tidak menutup kemungkinan benar karena Jingping dalam pidatonya terkait virus ini juga bilang ” Kita akan keluar sebagai pemenang dari PERANG ini. Menurut teman-ku si Jingping tidak me-refer perang ini ke penyakit melainkan ke perang melawan Amerika.

Maka, sikap open-minded atau tebuka, dalam pandanganku lebih berpotensi selamat dan menenangkan dari isu-isu terkait virus baru-baru ini, apalagi bila dilihat isu virus yang viral begitu saja selalu berisi ujaran kebencian terhadap etnis lain. Sayang, punya kecerdasan tapi tidak mau menyaring informasi dan memilih menjadi penyambung lidah karena tulisan itu mewakili perasaan.

Bagiku menyebarnya isu corona dalam negeri dan viral sampai membuat orang mau memborong minyak goreng dan masker sebagai cadangan kebutuhan harian adalah imbas yang tidak terukur dari oknum yang hanya ingin memanen pujian, atau rasa prestige, atau untuk membawanya pada popularitas semata.

Coba baca berita belakangan ini, ada juga tuh santri dari jawa timur dicari oleh polisi karena meng-edit status Facebook-nya tahun 2016 memprediksi tentang virus corona, padahal dulunya lain, tujuannya apa coba? tapi saya hanya baca berita dan tidak status dia jadi saya tidak menulis isinya apa. Viewers nanti nge-cek sendiri karena uda viral juga kok.

Jadi, begitulah kira-kira ulasanku mengenai Corona, semoga yang baca tidak buru-buru menggap aku orang sok tahu dan hanya melempar bola api disaat kemelut terjadi, Sekian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here