Setiba disebuah daerah, saya menemui banyak sekali remaja berkostum musisi ala punk dengan tindik disekujur wajah dan kelihatan dekil sekali.

Unik dan mudah dikenali dimanapun karena cara mereka tampil ke permukaan publik boleh dibilang sama disetiap daerah. Terlebih lagi area mereka beraktifitas itu kebanyakan di pinggiran jalan. Beberapa memang memilih taman untuk berkumpul dan menunjukkan kreatifitas “tanpa batas”.

Pernah sekali di alun-alun kota Pare kediri, saya berkumpul dengan mereka disaat sedang asik dengan buku-buku pameran tapi mereka tidak dekil dan tidak bertindik. Seorang mahasiswi datang mewawancarai mereka untuk keperluan data skripsi sosial yang sedang digarapnya. Seorang yang secara tampilan kelihatan lebih senior menjawab pertanyaan – apa itu punk sebenarnya?- mewakili anggota yang hadir.

Baginya punk itu simbol perlawanan terhadap pemerintah dan budaya borjouis yang selalu melahirkan gap sosial. Menyuarakan ketidakadilan lewat karya-karya seni dan tidak melulu musik, bisa dengan nyablon kaos dan buku-buku. Bila mau melihat wujud punk seperti apa katanya lagi, tidak ada yang jelas, pokoknya setiap hal yang melawan itu punk.

Dalam amatan saya punk ini beranggotan orang-orang dari banyak golongan seperti orang kaya, beberapa orang terpelajar, ada yang sedang mengambil S2 malah. Jadi definisi punk yang tertanam di mainset saya selama ini sebagai golongan yang kotor dan berandalan pelan-pelan mulai memudar.

Puas dengan pengetahuan baru, saya pulang mencari sarapan sambil meng-iya-kan dalam hati bahwa punk itu simbol perlawanan terhadap budaya yang ada.

Bukan warteg bukan juga rumah makan pada umumnya, saya duduk di kedai makan kecil lebih mirip gubuk, memesan nasi, tempe goreng dan minumnya teh hangat. Si ibu penjual menghidangi saya sesuai pesanan. Saya bergumam ibu ini “PUNK”.

Tidak ada yang salah pada nasi dan tempe pesanan, tapi segelas teh hanget ada “sedotannya”. Baru pertama sekali saya menemui cara minum teh hangat pakai ini.

Apakah si ibu sedang melawan budaya jawa dulu yang suka ngeteh pakai poci? Dimana gula tidak diaduk melainkan didiamkan didasar wadah, Atau beliau melawan budaya nyaneut di Sunda dimana saat ngeteh harus memutar cangkir tiga kali sebelum diseruput? Atau melawan budaya patehan keraton jogya dimana hanya dilakukan oleh bangsawan saja? Atau budaya nyahi dari betawi karena mirip cara ngeteh budaya tiongkok?

Merasa belum punya kesimpulan, saya melirik pengunjung lain saat mesan teh, lama kemudian setelah beberapa Es teh atau teh dingin bersedotan diantar, tibalah teh hangat dimeja mereka. Mungkin ini tidak bisa sebagai kesimpulan akhir karena yang kulihat adalah mereka menggunakan pipet/ sedotan itu hanya untuk mengaduk gula didasar wadah teh hangat bukan untuk “menyedot”.

Atau asumsi yang cocok menurut pandanganku tradisi nge-teh yang sudah turun-temurun di nusantara telah memiliki ragam budaya sehingga turunannya kelihatan “Punky” seperti kerjaan si ibu, dan tidak merujuk pada salah satu diatara budaya diatas. Tetaplah ini adalah pendapat penulis sendiri yang bila ditanyai kebenarannya masih jauh dari kata “benar”.

Yang jelas, sebagai penikmat teh hangat, memiliki sedotan telah membuat saya mencoba dan merasakan air panas tersembur kedalam mulut hingga merasakan sensasi terbakar yang luar biasa.

Penulis ingin berkunjung sekali lagi untuk mendokumentasikan teh hangat ber-sedotan itu sebagai bukti tapi malah gubuk itu sekarang roboh karena diguyur hujan. Sekelilingnya juga ada rumah makan, rasa penasaran saya mendorong untuk melakukan penelusuran lebih lanjut hingga mengunjungi rumah makan sekeliling itu satu per satu tapi belum membuahkan hasil.

Mungkin pembaca pernah melihat dimana saja penjual teh hangat bersedotan silahkan tinggalkan pesan dan gambar dikolom komentar agar penulis bisa mengganti foto ilustrasi diatas. Terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here