Aku keluar kamar menjumpai burung yang hinggap di dahan pohon depan pintu , kukira kami bangun dan keluar sama paginya. Dia mematuk-matuk ulat bulu hitam – beberapa kali ulat jenis ini kutemukan memasuki kamar tidurku.

Tidak terasa sudah hari ahad, hari dimana merelaksasikan badan dan pikiran yang sudah lelah selama 6 hari bergumul dengan diskusi IELTS, English Training dan content writing. Maka aku mensiasati waktu luang ini buat selonjoran, rebahan lagi dan sesekali nge-cek draft writing di web hellogani.com-ku.

Bagaimana dengan rekan kerjaku? Sedikit Cemas, aku bertanya sendiri. Ah, mungkin mereka juga sedang selonjoran atau-pun ngopi morning di kedai reok sudut sawah atau menuju keramain pejalan kaki di area CAR FREE DAY.

Benar saja yang kutebak, teman-temanku ada disana, kutemui saat keluar mencari sarapan di persimpangan kiri jalan menuju CFD, tidak terlihat lagi sebagai buruh proletar dan lebih menunjukkan diri sebagai manusia. Tidak banyak yang menyadiari, mungkin, bahwa ini kejadian musiman dan terjadi kala weekend tiba.

Kalau sudah waktunya berakhir, semuanya menjelma dan menyesuaikan diri kembali bekerja. Seolah hidup di dunia robot, dengan imajinasiku, seorang kulihat berubah menjadi autobot dalam Transformer movie, disusul oleh seorang lain disebelahnya dan kemudian semua berbaris rapi siap menerima misi integrasi dengan manusia seperti di film I ROBOT. Pernah tonton kan? Pemeran utamanya Will Smith.

Hanya akhir pekan saja, bagi robot proletar seperti aku dan mereka mendapati kecerian dan prilaku humanis lainnya yang tenggelam saat working day atau saat daily routines.

Be-a-man-like Terjadi saat merespon audience , menjelaskan kekonyolan lembar-lembar tulisan dan banyak typo tapi pikiran masih terprogram “I am robot, oops, a worker and should complete the mission successfully”.

Aku pulang dan melanjutkan lamunan di kamar. Bagaimana caranya bekerja dan secara “nilai” tetap menjadi manusia? Ah, ini hanya wilayah argumentasi saja, bila dilanjutkan tidak berkesudahan. Dalam realitas, orang bekerja dan di-upah, dari moyang dulu juga begitu, tidak pernah dibilang robot atau menganggap dirinya begitu.

Sesekali aku tetap mencoba mendefinisikan wilayah argumentasi ini, tapi masih tetap pada kesimpulan awal, yang ada ini hanya akan menyempitkan pemikiran. Atau yang ada, area ini akan membawaku pada penentuan sikap politik – satu-satunya dunia untuk berubah be-a-man-like, dimana aku benar-benar bisa bersikap sebagai manusia, cuma ini tebakanku saja.

Tapi a-robot-like worker seperti aku tidak boleh masuk ke diskusi politik karena akan mengundang simpatisan serta penolakan dimana; yang ikut merasakan akan pro dan yang punya banyak tabungan dari upahnya akan mengabaikan bahkan menolak. Apa lagi? hal ini berbuntut panjang, sepanjang buntut diskusi ini untuk mengucilkan salah satu ideologi atau kepercayaan; robot atau bukan.

Jelasnya weekend ini benar benar membuat semua buruh hidup bergembira dan bebas dengan waktu luang seperti aku dan pikiran bersama menuliskan kepenatan dan di-post-kan ke personal blog sebagai curhat akhir pekan.

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here