Intip 1 cara berhemat ala Jepang, Kakeibo

0
100

Yuk berhemat! Kita, anak muda Indonesia terkenal konsumtif. Selalu membeli keperluan sehari-hari tapi kadang yang sudah dibeli pun dibeli lagi, dengan alasan mereknya lebih bagus. Ada juga yang coba-coba, maksudnya coba-in produk baru, siapa tahu cocok. Bila dicermati, habit seperti ini bikin dompet menjerit, tidak hemat tahu.

Illustration: berhemat

Sebaliknya anak muda Jepang sudah terbiasa hidup memakai prinsip hidup sederhana. Jauh dari kata mewah, tapi tabungannya banyak. Meminimalisir pengeluaran sebisa mungkin adalah sebuah tradisi kakeibo mereka, yaitu memilah uang sesuai kebutuhan. Jadi, mereka bisa membuat estimasi uang yang dibutuhkan setiap bulannya dari cara ini.

Kakeibo sendiri adalah teknik mengatur keuangan dengan mencatat semua pengeluaran sehari-hari sedetail mungkin. Pertama sekali teknik ini diperkenalkan oleh seorang jurnalis Hani Matoko 1904. Pengeluaran itu sendiri didasarkan pada tingkat kebutuhan seperti:

  1. survival,
  2. optional,
  3. culture dan
  4. extra.

Pada kebutuhan survival, mereka mencatat semua pengeluaran harian seperti keperluan makan dan minum. Setiap hari dicatat dan dievaluasi berapa banyak diakhir bulan jumlah yang telah dikeluarkan. Dan, ini jumlah pengeluaran bulan tersebut dijadikan pedoman untuk pengeluaran bulan-bulan selajutnya.

Kebutuhan optional meliputi pengeluaran pada kegiatan liburan kala weekend, makan di restaurant dan membeli ice cream. Untuk kebutuhan seperti ini tergolong tidak banyak dan terjadi sesekali saja . Namun harus dipastikan berapa jumlahnya untuk dikeluarkan selama sebulan.

Kebutuhan culture ialah pengeluaran yang meliputi pembelian buku, tiket nonton theatre dan nonton film. Intinya pengeluaran ini dimaksudkan untuk menambah wawasan.

Terakhir kebutuhan ektra meliputi pengeluaran yang dibutuhkan sesekali seperti membeli obat, membeli kado, servis elektronik dan berkaitan dengan pengeluaran tak disangka.

Orang Jepang terkenal ulet dan suka berkerja. Jadi mereka juga tidak ingin gaji mereka habis begitu saja. Alasan kuat mengapa mereka suka berhemat adalah mempersipakan uang simpanan masa tua. Jadi, mereka tidak perlu lagi repot-repot mencari uang buat membaki diri sehari-hari.

Setelah melakukan perhitungan pengeluaran, biasanya mereka berhasil melakukan saving 50% dari total gaji bulanan yang mereka terima. Uang ini akan diteruskan ke bentuk investasi pembelian rumah, membangun bisnis dan menyimpannya dalam bentuk reksadana.

Hal lain yang perlu diperhatikan dari budaya hemat orang Jepang

  1. Suka memakai alat transportasi umum

Di daerah manapun di Jepang, masyarakatnya suka akan alat transportasi umum. Budaya ini menguat karena adanya keseriusan pemerintah dalam melayani masyarakatnya dan budaya hemat masyarakat Jepang itu sendiri. Kemana-mana naik kereta api, atau naik bus bila ke sekolah atau ke kantor.

2. Bawa makanan dari rumah

Biasanya para pekerja blue collar membawa makanan sendiri. Menu makanannya disiapkan dari rumah sebelum mereka berangkat bertugas. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengurangi biaya makan yang mahal bila membeli makanan di restoran.

2. Membawa Botol minum sendiri

Uniknya lagi, orang Jepang juga suka membawa botol minum sendiri. Nanti bila air minumnya habis, mereka akan mengisi ulang di tempat mereka bekerja.

4. Memiliki sedikit peralatan makan.

Dalam urusan makan, mereka hanya menyiapkan satu sendok, satu gelas, dan satu piring makan untuk satu anggota keluarga. Jadi untuk membersihkannya tidak memerlukan banyak sabun cuci. Jadi bisa menghemat juga.

5. Sistem amplop

Diatas kita sudah membahas tentang kakeibo, sekarang relevansinya dengan sistem amplop. Amplop dimaksudkan untuk mengalokasi dana yang akan dipergunakan dimasa mendatang dengan melabeli tiap-tiap amplopnya.

Cara kerjanya begini, uang yang dimaksudkan untuk pengeluaran survival, optional, culture dipisahkan. Bila nanti mereka sudah menghabiskan uang dalam satu amplop, misalkan amplop uang optional, maka bula tersebut mereka tidak boleh lagi menambahkan uang kedalamnya dengan mengurangi isi amplop lain.

langkah diatas dimaksudakan untuk mendisiplinkan diri dalam manajemen keuangan dan bila dilihat, cara ini cukup terkenal di kalangan orang Jepang maupun non.

Jadi kesimpulannya, seni mengatur uang Kakeibo ini akan memiliki efek yang positif bila diterapkan dalam kehidupan anak muda Indonesia untuk mendisiplinkan diri membelanjakan uang sesuai kebutuhan dan menumbuhkan minat menabung untuk masa depannya.

Belajar lebih dini mengatur keuangan, akan menyiapkan diri sendiri untuk bertahan dari berbagai macam ancaman ekonomi. Contohnya bertahan dengan uang simpanan dikala Covid-19 ini terjadi. Jadi tidak perlu terlalu khawatir akan belanja sehari-hari.

Baca juga book 2 review: Blue-eyed Devil

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here