Covid-19 menyebar-luas keluar china dan Indonesia menyambutnya dengan penanganan ekslusive di Bandara, Pelabuhan sampai area publik lainnya. Apalagi bila ada WNI/WNA yang bertolak dari Korea Selatan, Italia dan Iran, lebih dikontrol.

Masyarakat mulai panik dan kacau-balau dalam bertindak. Saat Covid-19 masih berupa kabar berita “bencana” dari wilayah tirai bambu, antisipasi masyarakat sudah ada tapi kecil,hingga suatu ketika media memberitakan kehebohan Coronavirus yang makin membahayakan ribuan orang Huwan, mereka mulai memborong semua masker di apotik dan toko obat.

Apa lagi yang terjadi? tindakan itu memancing yang lain untuk mengamankan persediaan makanan dan kebutuhan dapur, bila ditanya, mungkin mereka akan menjawab demi cadangan makanan selama masa mengurung diri di rumah.

Pemerintahan di level provinsi juga telah mengambil langkah penanganan bila ada dari masyarakatnya menjadi suspect, pasien langsung dirujuk ke Rumah sakit yang disiapkan buat penanganan Virus Corona.

Hal lain yang telah pemerintah daerah lakukan adalah mengurangi interaksi sosial secara face-to-face dalam dunia pendidikan seperti sekolah dan universitas agar himbauan pemerintah pusat tentang penerapan Social Distancing berjalan mulus.

Keadaan di lapangan menunjukkan trend yang positif dalam penanganan virus ini dimana semua kegiatan belajar-mengajar dilakukan secara online menggunakan platform media social. Hal-hal begini sudah seharusnya berlaku untuk masa yang tentukan demi menyelamatkan manusia dari ancaman kematian.

Himbauan Social Distancing juga disambut baik oleh tokoh agama salah satu-nya AA Gym. Sebuah cuplikan video yang kebetulah sempat penulis lihat di facebook menyatakan kesetujuannya terhadap keputusan MUI terkait pencegahan penyebaran wabah Corona di lingkungan tempat ibadah.

Salah satu poin yang dianjurkan oleh MUI adalah salat dirumah saat wabah ini mengganas adalah lebih utama dan termasuk juga menghentikan salat jumat sementara. Hal ini bukan bermaksud meniadakan ibadah cuma dilakukan ke tempat yang lebih private dan jauh dari keramian.

Aktivitas non-resmi berjalan

Pernah terpikirkan begini, pemerintah sukses melakukan pembatasan interaksi social masyarkat dilingkungan formal tapi bagaimana dengan warung kopi?

Setiap hari tempat ini dikunjungi oleh orang dan terus bergantian sampai malam. Tak terhitung berapa orang yang sudah duduk di kursi yang sama di kedai ini. Dan tak terdeteksi sebelum mampir, dari mana dan dengan siapa saja mereka bertemu.

Bila dicermati, sudah patut kegiatan di warung kopi saat wabah coronavirus masiih belum jelas puncaknya kapan berakhir, pemerintah memberi edaran ngopi di rumah saja, supaya potensi orang tertular birus ini bisa diminimalisir.

Muncul pikiran begini, apakah harus seserius itu dalam menyikapi coronavirus. Tentu ada yang menyayangkan bila itu dilaksanakan karena akan mematikan perekonomian masyarakat kecil. Darimana pedagang akan menghasilkan uang buat belanja di rumah bila warungnya sepi pembeli dan darimana mereka mencari solusi untuk bertahan selama beberapa hari tidak jualan. Semua keputusan tidak ada yang diuntungkan, menyelamatkan diri dari Covid-19 malah mati dengan kelaparan.

Pelajaran bagus bila kita mau melihat apa yang terjadi dengan Italy saat ini, dimana angka kematian setiap harinya mencapai 475 kematian baru disana. Ada apa dengan mereka? Dalam sebuah laporan ditulis bahwa pencegahan disana tidak menyeluruh ke segala aspek kehidupan masyarakat, masih saja ditemukan suspect positif corona sedang berbelanja di sebuah mini-market. Hingga saat ini semua masyarakatnya dikenai sanksi bila melanggar aturan baru pemerintah yaitu tidak keluar rumah tanpa ada kepentingan mendesak selama masa lockdown dan apa yang terjadi? 40.000 orang telah melanggar dan pemerintah Italy mendenda mereka.

Maka ketidaksetujuan beberapa orang bukanlah sesuatu yang perlu disikapi dengan serius ketimbang menyelamatkan kesehatan mereka dan kehidupan banyak orang. Terkhusus di wilayah yang banyak warung kopi dan segala aktivitas hari-hari masyarakatnya disitu, mungkin lebih berpotensi menjadi area infeksi virus dibanding masjid dan sekolah yang penghuni didalamnya masih bisa kita kontrol kehidupan mereka.

Ulasan ini tidak bermaksud untuk menyakiti pedagang kopi atau sekelompok orang karena sifatnya adalah bentuk kepedulian kita bersama terhadap kualitas kesehatan masyarakat selama masa Social Distancing ini. Terima kasih.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here