Ngopi : Dari Private Course ke Beasiswa

0
86

Di VOC, yang lebih dikenal sebagai cafe, saya, dan dua perantau lainnya dari daerah Aceh bertemu, tentu setelah janjian. Tapi, kondisi Kampung Inggris masih belum bebas sepenuhnya. Jadi masih mematuhi aturan social distancing.

Satunya adalah Muhammad dari Kutacane, pemuda energik yang memiliki impian berangkat ke Australia. Targetnya tahun depan bisa apply for scholarship, AAS. Jadi, sekarang dia fokus mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya untuk ikut tes IELTS. Bila nanti berhasil, jalannya ke Australia semakin mulus karena bisa study master`s degree disana.

Kedua adalah Fuad Amin. Dia berasal dari bumi Pasee, daya juangnya lebih mengakar, motivasi belajarnya lebih kuat. hingga saat ini sudah mengantongi dua tiket masuk kampus di Australia. Satu, dia dapat Letter of Acceptance, LoA, dari Monash University. Dua, dia dapat dari Queensland University. Tinggal mendapatkan beasiswa menuju kesana. Aku bagaimana?

Sekarang, daftar negara yang ingin ku-tuju lebih banyak. Tahun 2018, keinginanku hanya ke Australia. Tahun lalu ke German. Tahun ini harus ke UK. Bukan aku tidak berminat lagi ke negeri kangguru atau ke bekas negara bekas Nazi. Tapi, impianku kesana beberapa kali kandas, karena tidak lolos beasiswa, AAS dan DAAD.

“Kopi sudah dipesan. Silahkan duduk!” ucap ku.

” Sudah 4 bulan kita di Pare, tidak bisa beraktifitas dan belajar seperti biasa. Semua lembaga tes IELTS tutup. Seorang teman yang sudah pesan bangku tes di cancel se-pihak. Sekarang dia pulang ke Kutaraja. Kita ngapain lagi?”

“Baiknya kita menunggu keadaan pulih saja. Biaya Rapid test dan tes SWAB besar sekali. Pulang ke Aceh sekarang malah menjadi beban baru.” Ucap muhammad.

Bisa aja ucapku, tapi bertahan disini butuh biaya. Pendidikan dan kemampuan bahasa Inggris kita mestilah berguna. Setidaknya bisa menopang hidup kita selama di kampung Inggris.

“Punya pendapat?” ucapku.

“Fuad sudah gak sibuk lagi. Kemarin semua berkas permohonan beasiswa sudah fuad kirim. Jadi mau ngapain udah bebas.”

“Yaudah”. Ucapku.

“Biar berguna. Kita buka jasa koreksi writing academic, IELTS task 1 & task 2. Bila perlu, buka saja kelas buat grammar dan menulis kalimat bahasa Inggris. Dan lagi, teman-teman hebat lebih dari kita juga segudang, mereka ingin menjadi bahagian dari kita”.

Tak lama kemudian, kopi, teh dan Moccachino diantar. Obrolan tetap berlanjut. Sesekali kami menegaskan kembali diri sebagai scholarship hunter, pantang menyerah, pantang tunduk pada keadaan.

Bila orang pulang, kita tetap study. Bila orang beralih perhatian, kita nambah kegiatan. Pokoknya bila tidak ada uang, diusahakan sampai benar-benar jatuh pada titik terendah, tidak makan. Bila masih kuat, ayo jalan.

Tidak usah ngopi kedua

Tidak terasa udah setengah cangkir kopi habis. Obrolan udah maju-mundur kesana kemari. “Siapa yang bertugas promosi kelas kita, rekening siapa yang dipakai dan metode apa yang digunakan nanti?” “stop” ucapku, tidak usah serius sekali. Kita sedang ngopi, aha.

Selama ini kan selalu saja ada yang meminta diajar bahasa Inggris. Bila dulu sering ditolak karena sibuk mengurus beasiswa dan pekerjaan sendiri, sekarang terima aja. Terpenting komunikasi dengan mereka bagus.

Sekarang sudah masa serba online. Orang sedang beradaptasi dengan budaya belajar baru. Tidak tatap muka, pengawasan tutor itu longgar. Yang mengerti paham tidaknya hanya mereka pribadi sajalah. Kita hanya bisa mengajak mereka “Yuk belajar!”.

Kelas daring ini cukup menantang. Ini juga perlu menjadi pertimbangan. Bila orang tidak suka belajar, mereka langsung keluar dari grup. Bila mereka sedang sibuk, lupa akan janji ikut kelas. Terlebih, bila jadwal bergeser, orang mungkin panik, bingung kelasnya ada atau tidak. Trust ini harus dibangun.

Bila berjalan, akan sangat menguntungkan scholarship hunter lainnya. Dan orang lain juga mendapat kesempatan untuk membuat masterplan study mereka ke Australia bareng.

“Bila¬† mau diseriusin, pada kesempatan ngopi kedua, akan lebih jelas. Tapi, sekarang cukup sampai disini sajalah, ucap ku. Tak perlu tergesa-gesa. Nanti rencana ini malah tidak mengikuti jadwal yang sudah kita susun sebelumnya. Banyak yang harus kita abaikan bila berbenturan jadwal.

Terutama jadwal beasiswa. Sempat lihat calender scholarship, Saya perhatikan Chevening buka November ini. Tidak lama lagi, yang belum apply beasiswa tahun 2020 ini kayak saya akan fokus ke situ. Buat yang ingin tahu mana saja beasiswa yang bukan beberapa bulan kedepan, boleh juga mengunjungi laman ini, beasiswapascasarjana.com .

Setidaknya buat persiapan melamar beasiswa ini perlu mempersiapkan surat rekomendasi dari 2 akademisi seperti dosen atau rektor. rekomendasi dari tempat kerja, CV, Personal statement, dan study plan. Dan tahu kan? Ini berat sekali bila dikerjakan sebluan sebelum apply.

Baca lagi Bitcoin, Uang digital masa depan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here