Apa yang anda pikirkan bila krisis virus Corona ini usai, kembali bekerja atau memikirkan jenis pekerjaan baru?

Belakangan ini hampir semua kegiatan ekonomi lumpuh total di setiap negara karena mengikuti instruksi lock down, dan social distancing secara global. Pasar modal anjlok bahkan bitcoin pun ikut hancur. Terkhusus Indonesia, nilai tukar rupiah menjadi 16.555 per dollar amerika.

Imbas terbesar diterima oleh sektor pelayanan perjalanan dimana ribuan pekerjaan didalamnya akan punah setiap harinya. Mulai dari sopir taxi, pelayan restoran, tukang masak, catering, pilot, sampai tukang sapu (OB). Data ini adalah kutipan yang saya ambil dari gurdiannews oleh World Travel and  Tourism Council (WTTC). 

Sejauh ini, negara yang tergabung dalam OECD ( organisation for Economic Co-operation Development) juga resah dengan akan berimbasnya efek lock down terhadap GDP negara mereka hingga 2% setiap bulannya walau bersifat short-term. Dampak yang paling besar bahkan diterima oleh pariwisata mencapai 70%.

Bagaimana dengan Indonesia, apakah hal serupa juga terjadi? Ada, cuma saat ini pemerintah sedang fokus pada kesehatan. Padahal selain rupiah menurun, sebenarnya dampak itu cukup dirasakan oleh para pekerja di sektor informal atau buruh harian.

Rumah makan tutup, pekerjanya bukan saja tidak mendapat gaji bahkan kehilangan mata pencaharian. Orang tidak keluar rumah, para ojol tidak bisa mendapatkan sumber penghasilan harian lagi dari pekerjaan sebagai ojek. Bahkan buruh bangunan pun harus berhenti menerima upah selama masa krisis ini.

Oleh karena fokus pada kesehatan, manyoritas mainset orang Indonesia saat mendapati himbauan untuk melakukan social distancing adalah pulang kampung dimana akan menyelamatkan mereka dari kesukaran biaya hidup yang mahal sekaligus menjauhkan diri dari keramaian kota.

Hal serupa juga dilakukan oleh masyarakat India, pulang ke kampung bahkan lebih duluan dari orang Indonesia. Tapi kondisi mereka sudah sangat parah sekali hingga harus berjalan kaki berhari-hari karena alat transportasi sudah dimatikan, gejolak pulang kampung sudah bersifat exodus dan rata-rata mereka yang pulang adalah buruh imigran bergaji harian dan berekonomi menengah kebawah.

Kembali lagi ke pembahasan diatas, saat ini sektor pekerjaan yang paling parah adalah pariwisata dan semua yang berhubungan dengan ini. Akankah Indonesia mampu keluar dengan solusi dari virus pandemik Covid-19 dan mampu memberi keamanan untuk kelangsungan sektor pariwisata ini?

Mari kita evaluasi dari tanggapan tokoh dan pakar tentang kemampuan dunia menghadapi virus epidemik dan pandemik.

CEO Microsoft, Bill gate dalam penjelasannya tentang bagaimana kita harus menghadapi Coronavirus ini di acara TED Talk, melalui channel youTube, penulis mencoba merangkum apa yang disampaikan.

Lhoe, kok bukan bertanya pada ahlinya saja, kan lebih paham. Jadi ceritanya adalah Bill Gate sudah lebih dahulu meramalkan mengenai virus-virus epidemik mulai dari tahun 2015. Terlepas ini dari sebuah konspirasi atau bukan,  penulis hanya ingin memberikan sudut pandang dia yang telah menarik banyak perhatian orang. Ayuk kita lihat beberapa pernyataannya:

Pertama, Dalam video tahun 2015 berjudul The next outbreak, we`re not ready Bill Gates menjelaskan untuk beberapa dekade mendatang, yang orang akan hadapi bukanlah perang nuklir melainkan perang melawan virus mematikan dan microba canggih. Saat ini terbukti kita sedang melawan Covid-19 sehingga harus berdiam dirumah selama ini.

Kedua, dalam video itu, Bill Gates juga menyampaikan bahwa evaluasi dari penanganan ebola, kita belum siap secara sistem, bila ingin menangani satu kasus epidemik kedepan, dan akan butuh ribuan volunteer dalam penanganan medis.

Ketiga, penyebaran virus epidemik di masa depan akan lebih cepat melebihi penyebaran penyakit spain flu. Tidak ada yang mampu mengontrolnya.

Namun diakhir video diatas memang dia menyebutkan bahwa virus ebola itu adalah sebuah warning yang apabila langsung ditindaklanjuti pada saat itu juga,maka akan ada kemungkinan manusia menang melawan virus.

Lanjut ke video berjudul how we must respond to the coronavirus pandemic  tahun 2020, tanggal 24 maret lalu, Bill gates kembali mengatakan orang-orang belum bisa mengakses tes swab dalam skala besar saat ini yang berarti semua orang berpotensi sangat tinggi untuk menyebarkan kembali virus covid ini kepada orang lain karena bisa jadi mereka Asymptomatic ( tidak menunjukkan gejala).

Bagaimana pendapat tokoh yang lain? Dalam wacana penanggulangan bencana virus pandemik Covid-19 ini saya mencoba mengambil kesimpulan dari beberapa tokoh yang menawarkan solusi ekonomi dalam bentuk artikel bersama tokoh tokoh yang tergabung dalam debat Vox.

Pertama Luis Garicano, angggota parlemen Eropa, wakil presiden fraksi pembaharuan ekonomi dan digitalisasi. Dia menyebutkan dalam artikelnya berjudul The Covid-19 bazooka for jobs in Europe bila Covid-19 terlihat tidak berkesudahan, Eropa butuh untuk mengambil kebijakan yang bersifat alternative karena ekonomi semakin memburuk pada hal lapangan pekerjaan, perpajakan, pinjaman modal dan suplai manajemen setelah rusaknya  pasar saham beberapa minggu. Langkah yang diambil adalah mengamankan mata uang euro disaat membesarnya pajak dan melindungi  sistem perekonomian.

Kedua, Danny Quah, seorang profesor bidang ekonomi di Lee quan yen School, Universitas Nasional Singapore dalam artikelnya berjudul Singapore`s policy response to Covid-19 mengatakan berbarengan dengan pemberian insentif terhadap semua pekerja dan penduduk singapore baik yang bekerja atau belum selama 3 bulan Covid-19 , perlu adanya political leadership yang memungkinkan mencari jalan alternative demi melihat persoalan kehidupan masyarakat sampai pada level individu.

Ketiga,Gita Gopinath, sedikit menyinggung dalam artikelnya berjudul Limiting the economic fallout of the Coronavirus with large targeted policies bahwa usaha penawar jasa lebih rentan ketimbang industri atau manufacture.

Dari semua penyampaian tokoh dan pakar ekonomi diatas maka dapat kita lihat bahwa tantangan setiap negara kedepan akan lebih berat dalam mengamankan perekonomian negara terutama lapangan pekerjaan masyarakat apalagi yang benar- benar bertumpu pada bisnis jasa.

Strategi Indonesia dalam membangun ekonomi memang bertumpu pada sektor pertanian dan kelautan, mungkin ini adalah langkah yang harus terus dikembangkan.

Namun beberapa daerah yang menjadikan pariwisata sebagai sumber penghasilan daerah akan mendapatkan tantangan yang luarbiasa.

Pertama karena ketika daerah contohnya Bali mendapati kasus epidemik dari jenis Coronavirus kedepan, mereka terpaksa menutup, karena pemerintah sendiri belum punya solusi dan akan fokus pada pemulihan keadaan dari kasus tersebut.

Kedua, Memulihkan keadaan dan mempromosikan daerah kembali ke daerah luar akan lebih sulit, karena daerah tersebut belum sepenuhnya pulih dari infeksi virus.

ketiga, harus memiliki alat kelengkapan kesehatan untuk mengahadapi kasus tak terduga dan ini yang akan mengucurkan dana luarbiasa, daerah tidak akan siap untuk hal ini, contohnya mengadakan alat testing swab Covid-19.

Jadi sektor pariwisata kedepan tidak lagi menjajinkan untuk dikelola bila pemerintah Indonesia masih tergopoh-gopoh mengurusi masalah kesehatan seperti penanggulangan Covid-19.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here