Book 4 Review : Sain, Saintisme dan Agama

0
104

Sain dan agama. Satunya ilmu alam, satunya lagi tutorial mengenal tuhan dan tutorial menjalani kehidupan. Dua topik ini dikupas dengan bahasa yang paling mudah dicerna bagi semua kalangan dalam buku Sain, Saintisme dan Agama terbitan Mengeja Indonesia.

Tuntas membaca buku ini, saya lega. Badan menjadi ringan, pikiran pun tenang. Entah apa yang merasuki-ku. Tapi, ini jelas, kegamangan saya selama ini, memikirkan tentang perdebatan alot agama dan sain: mana yang baik, terjawab sudah.

Ada tujuh belas tokoh yang membahas topik tersebut. Mulai dari kalangan kontroversi seperti Ulil Absar, sampai dari kalangan tokoh liberal terbuka seperti Gunawan Muhammad. Masing-masing dari mereka menyumbangkan pemikiran yang mendalam dalam memahami benturan sain dan agama selama ini. Semua orang bebas berfikir tapi pikiran mereka dalam buku ini mewakili mereka yang berfikir bebas dan bijaksana.

Dari tulisan Gunawan Muhammad sebagai contoh. tuntas dan jelas sekali dalam menjelaskan fungsi sain dan kaitannya dengan kasus saat ini, Covid-19. Dia mengutip perkataan Karl Popper untuk mengawali tulisan ” Tujuan ilmu adalah kebenaran, bukan kepastian”. Bagai mendapat kuliah 7 menit, tulisannya mampu menyadarkan para saintisme, orang-orang pro sain tapi bukan ilmuwan, bahwa selama ini mereka salah, salah meyakini, meyakini ilmu “pasti”, padahal dia berkembang dari satu teori ke teori. Tapi Gunawan juga tidak membela agama. Malah dalam tulisan ini dia juga menjelaskan tentang agama pernah menjadi solusi buruk dimasa silam ketika wabah menjadi-jadi di benua eropa.

Atau dari tulisan A.S Laksana. Tulisannya berjudul sain dan hal-hal baiknya. Dia mampu menguraikan tentang ilmu secara… benar-benar meyakinkan. Dan, juga mampu membawa pembaca pelan-pelan masuk ke diskusi inti. Contoh saja, diawal dia menguraikan bagaimana agawaman dari masa ke masa selalu tampil didepan menjawab semua masalah kehidupan, tapi saat corona diam. Diamnya agama menumbuhkan rasa percaya diri para ilmuwan untuk tampil kedepan. tampil menjadi jawaban disaat agama tidak mampu melakukan.

Atau tulisannya Ulil Absar Abdalla. Tokoh Islam Liberal. Tulisannya begitu sederhana, hingga sekali baca kita tahu apa itu pongah. Bagaimana pongah dalam memegang sebuah pendapat malah menjerumuskan pada sikap merasa paling benar sendiri. Ceritanya dekat sekali dengan pengalaman Ulil. Bagaimana dia pernah pongah dalam beragama, taubat, tidak mengkafir-kafirkan orang lagi, tapi malah hampir terjerumus kedalam kepongahan baru, saintisme.

Atau juga tulisannya Hasanuddin Abdurahman. Kritik terhadap saintisme. Ini juga tidak kalah seru. Blak-blakan mengulas kesalahan para budak saintisme yang sombong. Misal dia menyadur prilaku stephen Hawking yang terlalu PeDe pada science untuk diulas. kritik pedas dia sematkan karena stephen berani berbicara diluar wilayah science. Contohnya merendahkan para filsuf, karena sering salah ambil kesimpulan, sedangkan sain tidak.

Atau tulisan bombardir Jamil Masa ke para follower fanatik ilmu pengetahun. Heboh dan pedas. Dia mengulas kesalahan orang yang mempercai sain sebagai agama dan kafir pada nikmat tuhan. Mereka dibantai dengan menyimpulkan ilmuwan saja tidak menganggap adanya mereka pendukung scientisme.

Atau kritikan Lukas Luwarso terhadap gugatan Gunawan Muhammad terhadap science diatas. Katanya GM lupa, dia hanya fokus pada fenomenology tapi lupa unsur lain. Lukas bilang, gugatan GM terhadap Science bersifat nostalgic, perdebatan masa kuno. Harusnya bersifat anakronistik. Dia pun menambahkan GM menuliskan tulisan itu sebagai bentuk kekecewaan dirinya terhadap ketidakmampuan science memberi kepastian terhadap masalah covid-19. Hal ini seolah GM, katanya, mengajak science beristirahat dari prosesnya. Lukas tidak setuju.

Atau pembelaannya Aziz Anwar Fachruddin terhadap makna scientisme. Katanya scientisme tidak mengandung makna peyoratif dan pemakaiannya murni dalam koridor diskusi akademik. Tidak seperti yang orang pikirkan, bahwa dia adalah sebuah paham kepercayaan.

Itu baru tujuh dari sekian artikel menarik dalam buku serial diskusi sain, saintisme dan agama. Artikel-artikel dalam buku ini, menurut pengalaman saya sendiri selesai membaca, cukup memuaskan. Direkomendasikan terutama bagi para pecinta diskusi. Selain menambah sudut pandang, juga bisa membuat kita mawas diri. Tidak mudah terpeleset maupun terpancing pada retorika yang hanya mendefinisikan sebuah makna kata.

Baca juga: BTS, the most beautiful moments ib our life

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here