Lanjut S2 bila butuh

0
149

“Saya akan melanjutkan pendidikan bila butuh” adalah ungkapan seorang teman ketika kami sedang ngobrolin grand design kehidupan masing-masing. Sama-sama sudah sarjana S1, sama-sama sedang ngumpulin uang tapi ternyata beda cara berfikir.

kegagalanku untuk mendapatkan kesempatan beasiswa studi ke luar negeri yang sudah kumulai dari tahun 2018 seolah sedang digugat kembali tujuannya.

Mungkin saja, penolakan dari scholarship provider untuk mendukung niatanku kuliah terhenti karena tujuanku tidak sama dengan jawaban temanku itu, lanjut kuliah bila dibutuhkan.

Terbayang sudah kan apa yang ada dipikiran teman-teman semua? kita sama, ingin gelar S-2 untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih bergengsi, ingin mendapatkan status sosial di masyarakat dan lebih spesifik, ingin jadi dosen, ya kan?

Ada perbedaan mental disini, satu mental interpreneur, leadership, dan mental mandiri, sedangkan satunya lagi adalah mental pelajar yang terus ingin kuliah, dan sekali lagi mental pelajar.

“Kalau memang ijazahnya tidak digunakan, buat apa melanjutkan kuliah, buang-buang waktu saja”, ungkapnya lagi. Aku yang mula-mula menjelaskan kuliah s2 diluar negeri itu dapat menambah wawasan dan jaringan baru malah terpukul dengan kalimat itu.

Betapa tidak, argumenku dihadapannya hanyalah omongan yang tidak perlu diambil pusing, betapun menarik bisa kuliah ke luar negeri, mendapatkan pengalaman dan pertemanan disana hanya ditepis dengan kalimat “saya belum butuh itu?”

Ketika aku menuliskan essay, personal statement atau menuliskan jawaban dari sederet pertanyaan Scholarship provider, seingatku itu AAS, muncul sebuah pertanyaan, “Bagaimana study yang ingin kamu ambil berpengaruh dalam pekerjaanmu?”. Bila dicerna pertanyaan tersebut! ini juga menanyakan tentang penting gak lanjut kuliah, ya kan?

Aku bukan bingung, lancar aja jawabnya, tapi itu lagi, jawaban yang aku berikan adalah supaya bisa menjadi dosen, dan bisa dapat ilmu melakukan penelitian. Dua jawaban yang menjadi andalanku ketika pertanyaan serupa muncul diprogram beasiswa lain seperti DAAD.

Paling parah nih, di proses wawancara DAAD tahun 2019, aku juga bilang ingin jadi dosen, ini malah membuat pewawancara tertawa dan malah menanyakan kepadaku bagaimana caranya aku bisa jadi dosen. Jujur aku juga tidak tahu apakah jawabanku salah atau ada hal lucu lain dariku yang dipikirkan, wallahu`alam bissawab.

Terus, aku melanjutkan diskusi dengannya karena aku yakin pengambilan sikap ini penting saat mendaftar beasiswa. Sobatku ini memilih jalan yang tidak kuduga, kukira dia akan mengabdi dulu ke kampus setidaknya menjadi Asisten dosen, karirnya dimulai dari sini, kemudian dia mengambil S2 karena mendapatkan saran dan rekomendasi. Eh, ternyata bukan, dia malah memilih membuat kursusan bahasa Inggris, mengajar disitu.

Hari ini niatanku mau lanjut kuliah lagi masih kuat,  tapi apakah kuliah S2 itu sudah aku butuhkan? jawabannya ia, tapi alasannya sedikit kocak, ini dikarenakan lowongan kerja tidak banyak membuka kesempatan untuk lulusan s1 yang telah lebih 5 tahun, atau bukan lagi fresh graduate. Harus S2 atau kehilangan kesempatan untuk berkarir di dunia akademik.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here